Oleh: Abdul Rahman Lasading, SE.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025 Kabupaten Tojo Una-Una hanya sekitar Rp 1,29 triliun. Pendapatannya Rp 1,25 triliun, pembiayaannya Rp 42,7 miliar. Angka tersebut bukan sekadar deretan nol; itu adalah cermin daya gerak ekonomi daerah.
Bandingkan dengan beberapa kabupaten lain di Sulawesi Tengah, struktur anggarannya jauh lebih besar. Mereka bisa membangun lebih cepat, jalan lebih panjang, layanan publik lebih luas. Kita? Harus lebih cermat dan lebih kreatif. APBD kecil bukan aib, tapi kalau hanya bersandar pada APBD kecil, itu masalah.
Pertumbuhan ekonomi tidak lahir dari pidato atau dari perbincangan warung kopi. Ia lahir dari aktivitas masyarakat yang terbuka; dari produksi, dari orang yang menanam, menangkap, mengolah, dan menjual. Ukurannya jelas: Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Secara sederhana, kita bandingkan nilai PDRB tahun ini dengan tahun lalu. Selisihnya dibagi tahun sebelumnya, lalu dikali 100 persen. Dari situlah kita tahu: ekonomi kita bergerak atau tersendat.
Jika PDRB naik, berarti ada yang hidup. Ada barang diproduksi, ada jasa diberikan, ada transaksi terjadi. Jika stagnan, berarti mesin ekonomi berjalan di gigi rendah.
Pertanyaannya: siapa yang bisa mempercepat putaran mesin itu? Jawabannya bukan hanya pemerintah. Sektor swasta harus masuk, harus diberi ruang; bukan untuk menguasai, tapi untuk menggerakkan.
Investasi melahirkan pusat ekonomi baru. Satu pabrik berdiri, puluhan usaha kecil tumbuh di sekitarnya. Satu kawasan wisata berkembang, pedagang lokal ikut hidup. Itulah yang disebut efek pengganda. Uang yang berputar tidak berhenti di satu tangan.
Tojo Una-Una punya pertanian, punya perikanan, punya potensi pariwisata bahari. Sumber daya ada. Yang dibutuhkan adalah keberanian membuka pintu—dengan aturan yang jelas.
Selama ini, kita terlalu bergantung pada transfer pusat. PAD masih kecil. Padahal, jika sektor usaha tumbuh, pajak dan retribusi ikut naik. Kapasitas fiskal daerah ikut menguat. APBD tahun depan tidak lagi sesempit hari ini. Namun, ada satu hal yang tidak boleh ditawar: lingkungan.
Tojo Una-Una bukan sekadar hamparan lahan kosong yang bisa dieksploitasi. Ia adalah ruang hidup. Ada hutan, ada laut, ada ekosistem yang menjadi sandaran generasi berikutnya. Investasi yang merusak hanya akan menciptakan pertumbuhan semu—tinggi di angka, rapuh di kenyataan.
Karena itu, pembangunan harus berkelanjutan. Ekonomi tumbuh, lingkungan tetap terjaga. Regulasi ditegakkan. Analisis dampak lingkungan tidak boleh sekadar formalitas.
Sinergi menjadi kata kunci. Pemerintah menciptakan kepastian hukum, sektor swasta membawa modal dan manajemen, masyarakat menjadi subjek, bukan penonton.
APBD boleh kecil, tapi visi tidak boleh kecil.
Tojo Una-Una tidak perlu menunggu kaya untuk bergerak. Justru dengan keterbatasan itulah inovasi lahir. Sejarah menunjukkan, banyak daerah maju bukan karena anggarannya besar, tetapi karena keberaniannya membuka diri pada kemitraan yang sehat.
Ekonomi yang kuat tidak dibangun dari ketergantungan. Ia dibangun dari kolaborasi; dari keberanian mengambil langkah strategis hari ini agar lima atau sepuluh tahun ke depan, kita tidak lagi berbicara tentang keterbatasan, tetapi tentang lompatan.
*Penulis adalah Dewan Pengarah Organisasi IPPM-TU Kab. Banggai








Comment